Hikmah - Filsafat Ketuhanan 3

Terakhir diperbarui

Lanjutan dari Pengertian Filsafat - Filsafat Ketuhanan 2

3. Hikmah


Selain digunakan istilah "falsafah", maka dalam bahasa Arab juga dipergunakan istilah "hikmah" dan "hukama" (ahli-ahli hikmah).

Petumbuhan peradaban yang dihayati oleh ajaran islam telah memelihara dan menyuburkan filsafat. Di dalam Al-qur'an kita tidak dapati perkataan "falsafah", tetapi bukan berarti filsafat tidak ada di dalam Al-Qur'an. Materi filsafat dibahas dalam Al-Qur'an dengan istilah "Hikmah".

Kedudukan hikmah dalam Al-Qur'an yang diajarkan Tuhan Mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada filsafat yang dipelajari manusia.

Berkali-kali dikemukakan dalam Al-Qur'an bahwa Allah itu Al-Hakim, Maha bijaksana, pemilik segala hikmah, dimana manusia dapat memperoleh setetes hikmah daripadanya.

Manusia dapat berfikir secara hikmah (bijaksana) dan dapat berbuat dengan hikmah jika mendapatkan petunjuk (taufiq dan hidayat) dari Al-Hakim, yakni Allah S.W.T.

Dr. Oemar Amin Hoesin menerapkan bahwa perkataan "filsafat" bukan bahasa Arab. Sebelum islam datang, orang arab tidak mengenal "filsafat", meskipun mereka memiliki "hikmah" dan "hukama", mempunyai bijaksana atau bijaksanawan.

Dalam Al-Qur'an Berulangkali kita dapati perkataan hikmah dan berulangkali pula dinyatakan bahwa hikmah itu diperoleh dari Tuhan.

Sebelum kaum muslimin memakai perkataan "fisafat", mereka menggunakan kata-kata "hikmah" untuk itu

Abdul Lathif telah menerangkan Kitabnya yang berjudul "Tarikhul Hukama", yang artinya tidak lain daripada sejarah filsafat. Oleh Karena itu sebagian pengarang-pengarang islam masih tetap memakai perkataan "hikmah" untuk filsafat, akan tetapi sebagian besar lagi memakai istilah "filsafat", untuk mengganti perkataan (Yunani Philosophia).

Al-Kifty seorang pengarang dalam abad ke 13, tetap menggunakan istilah "hikmah" dengan bukunya yang berjudul "Qashashul-Hukama", yang berisi riwayat hidup ahli-ahli filsafat.

Syekh Muhammad Abduh Mengartikan "hikmah" sebagai ilmu yang shahih, ia suatu sifat yang ditetapkan dalam diri, jadi hakim pada iradah membawa manusia kepada beramal, manakala amal terbit  dari ilmu yang shahih, adalah ia menjadi amal yang shahih lagi memberi manfa'at yang membawa kepada kebahagian. Menurut Muhammad Abduh, yang dimaksudkan dengan ayat yang berbunyi : "Allag memberi hikmah kepada siapa-siapa yang dikehendakinya", yaitu diberikan oleh Allah alat-Nya : akal yang sempurna, serta diberinya taufiq supaya dengan sebaik-baiknya, seorang itu memakai alat untuk menghasilkan ilmu yang shahih. Akal itu adalah suatu neraca untuk menimbang apa yang terlintas dalam hati dan pendapat pikiran,  dan membedakan di antara tashawuf dan tashdiq, manakala berat daun timbangan waham, dan di masa itu mudahah ia mengetahui perbedaan antara waswas dan iham.

Muhammad Rasyid Ridha membayangkan lebih lanjut pendapat filosof Muhammad Abduh dalam Tafsir  Al-Manar III, bahwa beliau menggambarkan hikma itu sebagai alat untuk memahami Al-Qur'an. Dijelaskan bahwa Al-Qur'an tidak mudah dicapai jika tidak sempurna akal dan tidak tepat mempergunakan akal dalam memahamkan hukum-hukum dan illat-illat hukum itu, perkataan-perkataan ini sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan Ibnu Abbas R.A. bahwa yang dimaksud dengan hikmah dalam ayat ini, ialah fikih (faham) tentang Al-Qur'an. dengan demikian arti "orang yang beroleh hikmah", yaitu orang yang memperoleh faham terhadapat ayat-ayat Al-Qur'an. yaitu Faham memberi pengetahuan pada tentang petunjuk-petunjuk dan hukum-hukum yang tersebut dalam Al-Qur'an, Beserta dengan illat-illat dan Hukum-Hukumnya.

Sehubungan dengan penggunaan istilah filsafat dan hikmah maka tujuan daripadanya ialah berusaha mengetahui kebenaran. Kecenderungan manusia untuk mengethui sesuatu memang adalah fithrah manusia. Apabila ia telah mengerti puaslah ia. Demikianlah keinginan untuk mengetahui pencipta manusia itu, merupakan tabi'at luhur bagi mereka sendiri.

Dari gejaa "mengerti" nampaklah gejala "kebenaran". Jika pengertian atau pengetahuan itu sesuai dengan "Hal yang diketahuinya", maka dikatakan orang, bahwa pengertiannya itu "benar"

Pengetahuan yang ialah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya atau dengan perkataan lain : kebenaran ialah persesuain antara pengetahuan itu disebut  "obyektivitas" yakni karena : persesuaian pengetahuan dengan obyeknya.

Penulis Buku - Dr. H. Hamzah Ya'Kub

Posting Komentar untuk "Hikmah - Filsafat Ketuhanan 3"

Komentar akan dipublikasikan setelah ditinjau oleh Moderator, sebelum itu baca dahulu aturan-aturan dalam berkomentar di Web ini *

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel