Kecenderungan Mencari Tuhan - Filsafat Ketuhanan 1


Sebelum kita mengkaji lebih mendalam filsafat ketuhanan, sebaiknya kita ketahui diri kita sendiri agar, kita tidak sombong dalam artian sombong kita baru hanya mebaca 1 buku kita merasa sudah hebat melainkan harus sebaliknya, dalam kata artian tidak  ada petani yang tunduk kepada padi melainkan padi yang merunduk kepada padi.

Filsafat Ketuhanan
Kecenderungan Mencari Tuhan - Filsafat Ketuhanan

Kita pertama membahas Kecenderungan Mencari Tuhan.

Ketika seseorang mulai menyadari eksitensi dirinya, maka timbullah  tanda tanya dalam hatinya sendiri tentang banyak hal. Dalam lubuk hati yang dalam, memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang masih merupakan misteri yang terselubung.

Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain, dari mana saya ini, mengapa saya tiba-tiba ada, hendak kemana saya dan lain-lain bisikan kalbu.

Dari arus pertanyaan yang mrngalir dalam bisikan hati itu, terdapat suatu cetusan yang mempertanyakan tentang penguasa tertinggi alam raya ini yang harus terjawab. Ketika pandangan di arahkan ke lazuardi biru, maka hatipun bertanya demikian kekar dan indah.

Ketika malam kelam membelam, langit dihiasi dengan pesta cahaya bintang, mengalirlah perasaan romantis mengaguminya. Tetapi di balik kekakugaman akan romantika itu, hati mencoba menelusuri siapa dia yang menempatkan letak-letak bintang itu begitu permai, serasi dan memukau.

Tatkala seseorang beranjak lebih dewasa dan mengenyam lebih banyak lagi pengalaman, maka kecenderungan untuk ingin tahu itu lebih keras lagi. Nampak kian banyak misteri yang terselubung di balik kehidupan ini. Banyak keinginan tidak selamanya terpenuhi. Sebaliknya banyak kejadian yang mendadak tak diduga sebelumnya. Maka siapakah penguasa di balik iradah dan kemampuan insan terbatas itu ?.

Pada tahap ini, bukan saja naluri yang bergolak tetapi otak dan logika mulai main untuk membentuk pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan.

Demikianlah jadi fitrah manusia bergolak mencari dan merindukan tuhan, mulai dari bentuk yang dangkal dan bersahaja berupa perasaan sampai ke tingkat yang lebih tinggi berupa penggunaan akal (filsafat).

Boleh jadi fitrah ini sekali tertutup kabut kegelapan sehingga nampak manusia tidak mau tahu siapa penciptanya, namun kekuatan fitrah sewaktu-waktu muncul ke permukaan lautan keadaan memanisfestasikan kecenderungannya merindukan tuhannya yang begitu baik budi. Dan betapa bahagianya pencari-pencari Tuhan yang merindukan penciptanya itu, ketika mereka disambut mesra oleh Tuhan sendiri dalam bentuk petunjuk yang diwahyukan-nya melalui rasul-rasulnya, disinilah terdapat perbedaan antara naluri, akal dan wahyu yang membuahkan ma’rifah, pegenalan terhadap Allah dengan sebenar-benarnya.

Artikel Selanjutnya Baca Disini

Penulis Buku - Dr. H. Hamzah Ya'Kub