Puisi Cinta Nurul Arifin (Cinta Tak Sebercanda Itu)

Nuruk Arifin

Untuk calon kekasihku jangan marah, aku hanya ingin kau tahu aku pernah memiliki ini, jangan cemburu sebab lukanya telah menjadikan aku seperti
sekarang.

Membuatku lebih dekat dengan Tuhan dan karnanyalah kita bisa di pertemukan.

Nurul arifin

Mentas di waktu di antara kotak-kotak peristiwaku untukmu, aku mengenang segala apa yang masih tersisa, tentang tumpukan kenangan yang berubah menjadi sesaat di malam yang enggan menjadi pagi. Aku melangkah jauh, menghentikan waktu sesaat menemukan pandanganmu.

Di awal aku belajar mengeja namamu, aku masih ingat tentang bulatan bola-bola jingga yang kau kenakan, tentang takutmu padaku, tentang candaku yang menjelma menjadi senyum, senyum yang selalu menyertaiku setelahmu.

Masih ingat tentang korek api yang mengeluarkan sepercik nada, ku-jelma menjadi suara yang maya. Aku mulai hafal suaramu saat itu. Hehe.. Untuk hal ini aku yakin kau tak mampu menjadikannya lupa.

Aku meninggalkan dirimu sesaat dengan rasa yang masih belum selesai yang kau tuntaskan, hanya tagihan buku dan nomor telepon yang ku punya darimu, jarak masih berpihak padaku.

Buktinya aku masih rajin menagih keaadaanmu tanpa keberatan kaupun menjelaskan sampai matahari pagi menyilaukan perbincangan kita, aku di sini dan kau di sana, bukan kuliah ataukah masa depan yang di tawarkan oleh rutinitas itu, salah satunya adalah kamu, yang mengalasankan aku kembali ke tempat semula, menggulung jarak dengan nikmat.

Kita akhirnya bertemu malam saat itu juga, tagihan buku, ku selesaikan pertemuan kita di ujung tangga belokan kiri, setelahnya kau menyempurnakannya lewat perbincangan telepon. Malam itu juga, rindu semakin bertabuh kau berdendang riang yang indah dalam degukku.

Pertama kali kau datang karnaku menjajaki jalan di atas keaadaan yang membuat kita nampak satu, melewati beberapa lampu yang seketika memudar ku ubah menjadi warna yang jambu, aku lupa berhenti di salah satu merahnya ku tukar dengan pandangan kepadamu.

Abu-abu menghampiri kita, sekali lagi ku ubah menjadi warna yang jambu, warna dalam cemasku yang tertutup tawamu saat itu, aku merasa indah, mungkin karna kau lukis dengan ikhlas.

Sore yang ramai di bulan September tanggal sehari setelah 19 mu, kau mengiyakanku menjadi kekasihmu.

Titik awal dari segalanya, segala hal yang menyangkut tentang diriku dalam dunia yang ku temukan sendiri.

2 tahun 3 bulan aku belajar darimu, belajar mengenal sayang, belajar mengenal kasih, belajar untuk menerima, belajar untuk memberi, belajar dari segala hal yang ku sebut sebagai ikatan, ikatan yang sebenarnya telah menipuku.

Nurul arifin.

Aku selalu menjadikan abu untuk kamu ku berikan segala hal yang kumiliki untukmu, ku tawan kebebasanku dalam wujud hadiah yang sempurna.

Ku telan semua pahit lalumu dengan rasa yang manis, ku cerca hidupmu sedikit demi sedikit dengan alasan namamu. Apa yang ku dapat setelahnya, kau menghakimiku secara sepihak dengan alasan jarak, mengalasankan kesendirian dengan sebuah pemakluman.

Tentang dirimu yang berkali-kali di hempaskan oleh laki-laki lain selain aku. 5 kali kau datang dalam keadaan luka, 5 kali pula aku dengan kebahagiaan yang sebenarnya juga luka.

Aku tahu, kamu sendiri di sana. Kamu butuh orang lain, dan memang aku akui, aku tak bisa ada di sisimu saat ini. Tapi jangan menjadikan aku terdakwa dengan semua ini. Berkatalah seperti itu, ketika ajal meniadakan aku di dunia ini, ketika aku sudah tidak ada kemungkinan untuk bertemu kembali. Mungkin arwahku, membantumu menemukan orang lain.

Menemukan seseorang yang tak memiliki kekurangan sepertiku yang tak bisa ku penuhi untukmu selama aku masih hidup, seluruh isi semesta ini akan
merestui.

Terakhir kali aku mendapatimu dengan lelaki yang ke enammu, aku memutuskan untuk tidak kali ini.

Aku takut menjadi tongka untuk kesekian kalinya.

Mencari saat aku tertatih, dan menyimpanku kembali saat mampu berjalan. Aku telalu setia kepadamu, kesetiaan itulah membuatmu mudah ke lain hati, bukankah setelah terluka darimu aku masih mampu menerimamu, bukankah aku tak mampu mencintai wanita selain dirimu.

Nurul arifin

Aku tak menyesal menjadi setia, kesetiaanku tumbuh menjadi dewasa, bukan lagi untukmu tapi setelahmu.

SELESAI

Bagi kalian yang tidak tahu dengan lirik puisi dari Nurul Arifin, saya sudah siapkan videonya dibawah ini silahkan dinonton.



Bagaimana dengan Puisi diatas yang menjelaskan kisah cinta Nurul Arifin.
Apabila kalian suka dengan apa yang saya bagikan, kalian bisa berkomentar dibawah ini atau yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi saya via contact yang telah saya sediakan diblog ini, Terima Kasih.

4 Komentar untuk "Puisi Cinta Nurul Arifin (Cinta Tak Sebercanda Itu)"

Komentar akan dipublikasikan setelah ditinjau oleh Moderator, sebelum itu baca dahulu aturan-aturan dalam berkomentar di Web ini *

  1. Judul aslinya apa yah?? Latar belakang penulis dn tahunnya ada nggak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. mohon yang sebesar besarnya untuk latar belakangannya nurul arifin saya belum menemukan infonya, tapi judul asli puisinya Cinta Tak sebercanda itu.

      Hapus

Posting Komentar

Komentar akan dipublikasikan setelah ditinjau oleh Moderator, sebelum itu baca dahulu aturan-aturan dalam berkomentar di Web ini *

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel