Puisi atas nama Munir oleh Fahd Pahdepie

Puisi atas nama Munir oleh Fahd Pahdepie.

Dibacakan di acara "Indonesia Menolak Lupa" Peringatan 10 Tahun kematian Munir. Di Federation Square, Melbourne, 7 September, 2014.

Aku mendonggakkan kepala meneropong cahaya di antara belantara gedung-gedung kota.

Kecurangan telah meracuni udara pengkhianatan sudah mengandaskan selangit kebenaran.

Membunuh sebuah nama di awan-awan.

Aku menundukkan kepala mencari nafas yang hilang diantara percakapan-percakapan rahasia.

Ada tangan-tangan yang mencuri cinta ada laki-laki yang menjegal perjuangan.

Tetapi kebenaran tak akan pernah mati cahaya tak akan redup ditelan kepalsuan.

Aku mengepalkan tangan semacam dendam yang tertunda seperti amarah yang tertahan.

Menunggu sumbu waktu meledakkan keangkuhan kekuasaan yang mempermainkan kemanusian.

Maka aku akan melawan, Maka aku akan melawan.

Meski racun-racunmu menjalar di jalan-jalan darahku tak akan sanggup membunuh kejujuran, juga kebencian.

Maka aku akan terus menagih janji melahirkan seribu nama pejuang dari satu martir yang dikorbankan.

Maka aku melangkahkan kaki, bergerak ke istana menantang nyali dan menagih janji.

Seperti nama itu, berangkali mereka bisa membunuhku.

Merancuku ribuan kali menyumbat jalan-jalan darahku merenggut cinta dan kebahagiaanku.

Tapi aku tak akan mati aku tak akan pernah mati.

Sebab keberanian tak akan mengalahkan pada kecurangan manapun.

Sebab kebenaran akan terus ada dan berlipat ganda.

Melbourne, 7 September 2014. Mengenang Munir Said Thalib.

Bagi kalian yang tidak tahu dengan lirik puisi Atas Nama Munir, saya sudah siapkan videonya dibawah ini silahkan dinonton.



Bagaimana dengan Puisi diatas yang menjelaskan kisah Kisah perjuangan Munir selamanya Hidupnya.

Apabila kalian suka dengan apa yang saya bagikan, kalian bisa berkomentar dibawah ini atau yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi saya via contact yang telah saya sediakan diblog ini, Terima Kasih.