Dari Kabupaten Bulukumba Menuju Indonesia yang Pluralis atau Multikulturalis

Penulis Asli: Yolan Tukan
Direject Bahasa Melalui: Miras

Bagi orang yang hidup yang daerah budayanya yang sudah hilang, tidak masalah dengan hal tersebut.Tapi bagi masyarakat sperti kami yang masih menjunjung tinggi dengan hal tersebut seperti itu kami sangat penting. Acara-acara adat dan budaya sangat bergantung dengan kehidupan kami. Menghilangkan budaya dan adat, sama saja menghilangkan kami dari tempat asal kami.

Multikulturalisme merupakan suatu keharusan dan sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia, menunjukan jati diri sebagai suatu NEGARA yang majemuk dan khas, jika kita melihat dari konteks keragaman ras, suku, bahasa dan agama merupakan sebuah kelebihan dan suatu ciri khas bagi NKRI yang membedakann kita dengan Negara lainnya.

Tapi jika tidak dekolala dengan baik maka akan menimbulkan sebuah problematika yang serius yang berdampak pada perselisihan, konflik, pertikaian antar umat, peperangan dan bisa berujung pada kematian.

Hari ini Indonesia di landa masalah mengenai masalah multikultur/pluralisme yang sudah menjadi wabah yang dikonsumsi, baik dari tingkat Regional, Nasional bahkan menjadi trending topic pada tingkatan Internasional. Multikulturalisme Di Indonesia baik dari kaum mayoritas maupun minorotas masi bersifat "eksklusif dan non akomodatif.

Masi banyak kelompok yang memanfaatkan isu Agama dan isu populis untuk mempengaruhi orang, di akibatkan adanya arogansi keyakinan dan sifat egosentris disetiap kelompok. Sentimen Agama berujung pada permusahan, dan kita pun mudah terprovokasi oleh isu Agama.

Yang mana Agama saat ini bukan lagi berbicara soal kemaslahatan umat manusia namun di jadikan sebagai senjata untuk mencapai kepentingan Ekonomi politik. Saatnya Indonesia sulam simpul kembali benang Bhineka Tunggal ika yang putus.

Walaupun di satu sisi, beberapa wilayah di Indonesia mengalami masalah pluralisme, tapi disisi lain masih sangat banyak wilayah di belahan Bumi Indonesia yg masih menjunjung nilai pluralisme sesuai dengan BHINEKA TUNGGAL IKA.

Sebagai contoh Daerah Kabupaten Bulukumba, dimana kabupaten ini berjumlah setidaknya pada tahun 2016 berjumlah 413.229 jiwa, 1/4 agama kristen, hindu, khongucu dan selebihnya mayoritas islam, namun sepanjang sejarah tidak terjadinya konflik.

Toleransi umat beragama sangat di junjung tinggi, jika ada pembangunan gereja maka umat islam bersatu untuk membantu, begitu pula dengan Budaya dan Adatnya mereka masih saling membantu/menghormati antara lain.

Pada akhir tulisan ini penulis dapat menarik kesimpulan dan dengan kesimpulan tersebut setidaknya mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang hukum Islam dalam masyarakat MultiKulturalis/pluralis, sehingga diharapkan dapat lebih memperjelas apa yang telah digambarkan di atas.

Dan dengan kesimpulan tersebut pula setidaknya penulis dapat memberikan beberapa saran yang nantinya semoga dapat dipertimbangkan. Adapun kesimpulan dan saran adalah:

  1. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
  2. Pluralisme adalah paham kemajemukan yang melihatnya sebagai suatu kenyataan yang bersifat positif dan sebagai keharusan bagi keselamatan umat manusia.
  3. Multikulturalisme merupakan pengakuan bahwa beberapa kultur yang berbeda dapat eksis dalam lingkungan yang sama dan menguntungkan satu sama lain. Atau pengakuan dan promosi terhadap pluralisme kultural
  4. Sejak awal perkembangan Islam sebagai konsepsi realitas telah menerima akomodasi sosiokultural. Akomodasi ini semakin terlihat ketika wilayah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga ia menjadi agama yang mendunia. Pada kasus-kasus tertentu, akomodasi itu tercipta sedemikian rupa, sehingga memunculkan “varian Islam”
  5. Masyarakat yang majemuk (plural) dimana penduduk dari berbagai latar belakang etnik, suku, bangsa dan agama berkumpul dan hidup bersama akan menimbulkan tantangan-tantangan tersendiri yang perlu dijawab oleh masyarakat perkotaan dengan mengembangkan sifat-sifat yang cocok dengan keadaan. Sifat-sifat yang cocok dengan keadaan masyarakat kota inilah yang dimaksud dengan masyarakat madani-multikultural dan tentu saja melibatkan sikap-sikap tertentu yang menjadi tun-tutan masyarakat multikultural. Sikap-sikap tersebut antara lain meliputi inklusivisme, humanisme/egalitarianisme, toleransi, dan demokrasi.