Anak Jaman Now dan Tantangannya di Jaman Milenial

Penulis Opini, Anak Jaman Now dan Tantangannya

Banyak orang yang percaya dan kagum bahwa Indonesia adalah contoh nyata sebuah negara besar yang dikaruniai keberagaman budaya dan juga keberagaman agama.

Keberagaman itu dapat menjadi sebuah kekayaan jika dapat dikelola dengan baik, Namun jika gagal mengelolanya, keberagaman itu justru akan menjadi sumber konflik berkepanjangan yang dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah negara.

Sejarah mungkin telah mengajarkan kita bagaimana beberapa negara besar hancur karena gagal mengelola keberagaman yang dimilinya. Sebut saja Cekoslowakia ataupun Yugoslavia.

Bagi mereka yang terlahir di Indonesia, menjadi beragam bukan hanya pilihan namun sebuah keharusan. Mereka yang terlahir di Indonesia harus siap untuk berbeda dan hidup dalam keberagaman mengingat Indonesia dibangun di atas warna-warni perbedaan.

Kesadaran bahwa Identitas ke-Indonesiaan dibangun atas dasar semangat keberagaman penting untuk untuk selalu diingat dan ditekankan sebagai bangsa Indonesia.

Meski ada kelompok yang secara jumlah merupakan mayoritas, namun Indonesia adalah sebuah negera yang dibangun bukan untuk kelompok mayoritas tertentu.

Hal itu tidak hanya tercermin dari semboyang Bhineka Tunggal Ika, namun juga tercermin dari sejarah panjang perjuangan para pendiri bangsa yang bahu membahu mengusir penjajah.

Sejarah telah menjadi bukti bahwa tidak peduli apapun suku dan agamanya, nenek moyang kita berjuang bersama demi kepentingan bersama. Untuk sebuah negara berdaulat, Indonesia. Sebuah negara yang didirikan untuk semua dan akan merangkul semua.

Suatu ketika, Tanggal 1 Juni 1945, dalam pidatonya yang disampaikan dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno mengatakan; "Kita mendirikan Negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua. Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua"

Belakangan, ancaman terhadap keberagaman itu muncul dengan kecendrungan masyarakat yang menjadi lebih eksklusif. Fenomena pemilihan teman bergaul, tetangga bahkan hingga ke konsumen yang didasarkan pada kesamaan agama mungkin saja adalah awal dari sikap eksklusifitas yang nantinya bermuara pada ancaman atas keberagaman.

Eksklusifitas kelompok berpeluang besar mengantarkan masyarakat ke pada sikap anti pati terhadap kelompok yang berbeda. Apalagi jika semangat eksklusifitas ini ditambah dengan perasaan paling benar, paling Indonesia, paling berkuasa hingga kemudian menciptakan image negatif terhadap kelompok lain yang berbeda.

Hal ini diperparah oleh para "penjahat politik" yang menggunakan isu identitas demi kepentingan politiknya. Tanpa sadar, masyarakat semakin terpolarisasi hanya karena perbedaan identitas yang pada awalnya bukan sebuah masalah.

Para "Penjahat Politik" ini tidak sadar bahwa mereka telah telah merusak tatanan Kebhinekaan yang telah lama diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Sebuah negara berdaulat untuk semua. Indonesia tanpa Sekat.

Pada posisi ini, anak muda tentu diharap dapat menjadi kelompok yang dapat mencegah semakin meluasnya politik identitas dan polarisasi masyarakat hanya karena persoalan perbedaan agama.

Apalagi anak muda adalah calon-calon penerus yang nantinya diharapkan bertransformasi menjadi agen-agen perubahan. Sayangnya, tantangan terhadap anak muda juga tidak sedikit.

Justru, anak muda adalah generasi yang sangat rentan terkena sindrom eksklusifitas hingga virus anti keberagaman. Hasil Survei Nasional Center for Strategic and International Studies tahun 2017 lalu menyebutkan bahwa lebih dari 50% generasi milenial di Indonesia menolak pemimpin yang berbeda agama.

Kedekatan generasi muda milenial dengan sosial media ditenggarai menjadi salah satu penyebab munculnya semangat eksklusiftas ini. Generasi milenial adalah generasi pengguna sosial media terbesar.

Dari Facebook, WA, Twitter, Path hingga Instagram. Sayangnya, media sosial juga menjadi tempat di mana anjuran kebencian begitu banyak berseliweran.

Media sosial dipenuhi oleh ujaran ujaran kebencian berbalut agama yang jika tidak dipahami dengan seksama justru akan mengantarkan anak anak muda pada model keberagamaan yang eksklusif dan anti keberagaman.

Agama yang seharusnya menjadi jalan damai justru digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu semata. Celakanya, banyak generasi muda yang tidak memahami kapan agama muncul dalam wajah aslinya atau kapan agama digunakan oleh sekelompok orang untuk kepentingan pribadinya.

Untuk itu kemudian dianggap perlu untuk melakukan counter gerakan di sosial media. Sebuah gerakan untuk kembali menunjukkan wajah agama yang damai, wajah agama yang suci dan wajah agama yang menghargai perbedaan. Namun dengan cara-cara kekinian agar dapat menarik kembali anak-anak muda.

Agama harus ditempatkan kembali sebagaimana asalnya. Ujaran-ujaran kebencian atas nama agama harus dihentikan, berganti dengan ujaran ujaran kebaikan untuk menunjukkan wajah damai agama.

Agama tidak seharusnya dijadikan landasan intoleransi karena agama adalah jalan damai yang berisikan pesan-pesan cinta.

Pelibatan anak muda dianggap sangat perlu mengingat anak muda adalah harapan akan bergerak kemana semangat keberagaman agama di Indonesia. Wajah agama di Indonesia kedepannya ditentukan oleh model keberagamaan anak muda sekarang.

Penting untuk mengajak kembali anak muda untuk melihat agama sebagai jalan damai. Bukan menjadikan agama sebagai alasan pembenaran untuk membenci.

Hak Cipta Penulis: Syamsul Arif Galib

Tulisan ringan tentang Anak Muda dan Tantangan Keberagaman. Sekedar pengingat kepada teman-teman muda tentang Indonesia yang dibangun di atas warna warni perbedaan
.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel