Asian Games Penghambat Pembangunan Indonesia - Jarsum

Asian Games Penghambat Pembangunan Indonesia

Contoh Pembangunan yang Tertunda karna Asian Games, dana alokasi Pembangunan Stadion Barombong pindah ke Asian Games

Perhelatan akbar Asian Games tinggal menghitung beberapa hari. Sorak gemurai menyambut pesta olahraga terbesar se-Asia itu sudah terlihat rampun sedikit demi sedikit.

Namum di balik itu semua, Indonesia sebagai tuan rumah dari perhelatan akbar tersebut harus menguluarkan anggaran sampai dengan puluhan triliun demi pergelaran olahraga tersebut, yang katanya akan diikuti sekitar 45 negara peserta.

Bagian Wakil Direktur Pendapatan Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) Cahyadi Wanda pernah berkata, biaya yang di keluarkan dari penyelenggaraan dan pembangunan sarana dan prasarana pada Asian Games 2018 memang tidak akan mendapat keuntungan dalam waktu jangka pendek untuk mengembalikkannya dalam waktu yang cukup singkat.

Cahyadi Pernah beranggapan bahwa, Asian Games adalah sebuah investasi jangka panjang. Adapun keuntungan yang didapat Indonesia akan bisa dinikmati pada tahun-tahun mendatang, bukan pada saat Asian Games berlangsung. (Apakah Benar?)

Cahyadi sendiri pernah mengatakan INASGOC selaku penanggung jawab penyelenggara Asian Games tersebut mendapat dukungan dana hampir Rp. 5 triliun untuk operasional dari pemerintah.

Dana itu pun didapat setelah permintaan awal sebesar Rp. 8,7 triliun yang ditolak. Akibatnya, INASGOC harus mencari sponsor untuk menutupi kekurangan yang ada.

Pencarian sponsor pun tetap dilakukan dengan berbagai macam cara dan kesepakatan, sponsor dalam bentuk uang tunai, produk, atau barter kebutuhan. Namun naasnya, jumlah itu pun tidak mencapai seperti yang ditarget dengan angka Rp. 8,7 triliun yang diajukan oleh INASGOC. Itupun hanya ada sekitar Rp. 1,6 triliun yang diraih dari sponsor yang ada.

Apa Uang Negara tidak Kembali?


Cahyadi pun mengatakan, bahwa pemerintah Indonesia melalui Kementerian PUPR harus bertanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur yang ada, seperti arena pertandingan dan lainnya. Total dana yang dikeluarkan pun pemerintah mencapai Rp. 27 triliun.

Menurut Cahyadi, jumlah itu telah dipisahkan dengan anggaran INASGOC. Selaku penyelenggara, INASGOC hanya bisa membangun fasilitas, seperti media center, wifi, dan berbagai hal lainnya. Sehingga uang negara tidak mungkin bisa kembali semudah itu. (Sangat lucu Berambisi untuk Menjadi Tuan Rumah Tapi Takut Kehilangan Uang).

Sekarang begini, pengeluaran Asian Games untuk pengeluaran infrastruktur sudah berapa? Enggak mungkin kita balik. Untuk Benerin satu stadion GBK saja sebenarnya enggak mungkin kalau dikembalikan, katanya.

Kalau itu harus dikalkulasikan dalam bentuk uang, enggak mungkin kebayar.

Lalu apa yang dikatakan Cahyadi sangat mungkin karena pengeluaran negara mencapai hampir Rp. 32 triliun untuk Asian Games (PUPR dan INASGOC), sedangkan pendapatan INASGOC sendiri tidak bisa menutupi total target pengeluaran. Dana seperti sponsor Rp. 1,6 triliun hanya bisa digunakan untuk penyelenggaraan acara saja. Penjualan tiket dan merchandise juga tidak bisa menutup sama sekali untuk pengeluaran negara untuk Asian Games ini.

Sebagai gambaran ungkapan, Cahyadi mengatakan pihaknya menargetkan merchandise mendapat untung Rp. 20 miliar. Jumlah itu dibagi-bagi kembali dengan 23 perusahaan produsen pembuat merchandise, distributor dan lainnya. Untung bersihnya sendiri yang diperoleh INASGOC diperkirakan hanya mencapai Rp. 7 miliar.

Penjualan tiket Asian Games juga tak mampu untuk menutupi kekurangan yang ada dari target realisasi pengeluaran yang ada. Sejauh ini, harga tiket dari Rp. 750 ribu hingga Rp. 5 juta per orang.

INASGOC beralasan, harga itu ditentukan oleh Olympic Council of Asia (OCA). INASGOC menargetkan adanya penjualan tiket hingga sekitar Rp. 50-Rp 60 miliar. Namun, tetap saja tak ada keuntungan dari penjualan tiket ini bila dibanding dengan pengeluaran yang jumlahnya triliunan.

Cahyadi mengatakan, kontribusi perhelatan Asian Games kepada Indonesia bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk peningkatan pariwisata dan ekonomi lokal. Dengan banyaknya atlet yang datang ke Indonesia, ia yakin ekonomi rakyat Indonesia akan terbantu dari pariwisata hingga kuliner yang ada.

Dalam konteks ini, Cahyadi beranggapan, pandangan masyarakat harus diubah. Menurut dia, penyelenggaraan Asian Games bukanlah semata untuk mencari keuntungan semata, tapi lebih kepada mengenalkan Indonesia kepada dunia. Adanya anggaran dari pemerintah, memang digunakan untuk pembangunan dan bukan kewajiban Asian Games untuk mengembalikan anggaran tersebut.

Ia menegaskan, bila tidak ada Asian Games, maka tentu pembangunan infrastruktur tidak akan dipercepat. (Buktinya Pembangunan di sebagian wilayah Indonesia dihentikan karna dana Asian Games kurang, maka dana pembagian di sebagian wilayah Indonesia dihentikan) Selain pembangunan stadion dan Wisma Atlet di Kemayoran, pembangunan di Palembang juga berjalan, salah satunya LRT. (Instruksi Indonesia Bukan hanya Jakarta dan Palembang)

Cahyadi pun dengan tegas mengatakan, Asian Games bukanlah ladang tempat mengeruk keuntungan sejak awal, karena Indonesia tetap tidak akan mendapat keuntungan daripada pengeluarannya untuk penyelenggaraan. (Kepercayaan tersebut belum bisa dirasakan hingga Asian Games Selesai)

Jika seandainya ada sisa uang yang didapat dari penyelenggaraan Asian Games, Deputi II Administrasi Pencocokan INASGOC, Francis Wanandi menegaskan, seluruhnya akan masuk ke kas negara. INASGOC adalah lembaga ad hoc yang akan bubar ketika Asian Games selesai diselenggarakan. Namun, uang itu akan dimasukkan ke pos Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). (Saya harap tidak ada pihak yang berlomba untuk meng-korupsinya)

Apabila negara secara keseluruhan tidak mendapat uang kembali dari penggelontoran dana APBN besar-besaran, setidaknya Kemenpora akan mendapat uang hasil tiket penjualan Asian Games sebesar Rp. 57 > Rp. 67 miliar.

Indonesia pada dasarnya bukan satu-satunya negara yang mengalami pengeluaran dana besar-besaran. Pada penyelenggaraan Olympic tahun 2008 dan 2014, Cina dan Rusia menghabiskan dana sangat besar hanya untuk pesta olahraga tersebut. Mereka menghabiskan dana masing-masing US$40 miliar dan US$51 miliar. (Lalu korupsi yang dilakukan Dodi Iswandi itu apa?)

Menurut Cahyadi pesta olahraga seperti Olympic, SEA Games, dan Asian Games adalah investasi jangka panjang. Namun, pengamat ekonomi olahraga dari Universitas Holy Cross, Amerika, Victor Matheson berkata hal lain.

Tidak ada orang di dunia ini yang butuh kolam dengan tempat duduk 10.000 orang atau tempat skating berbentuk oval dengan 10.000 tempat duduk, kata Victor Matheson seperti dikutip dari Vox soal pembangunan infrastruktur untuk persiapan Olympic.

Artikel ini Terbit di Tirto.id
Headline Uang Negara yang Tak Kembali dari Hajatan Asian Games

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel