Festival Keberagaman Bernama Piala Dunia - Jarsum

Festival Keberagaman Bernama Piala Dunia

Syamsul Arif Galib

Bagi sebahagian orang, pagelaran piala dunia mungkin tidak lebih dari sebuah perayaan empat tahunan sepak bola antar negara. Sebuah gelaran yang menghadirkan negara-negara terbaik dari berbagai benua untuk bertanding dan memperebutkan status sebagai juara dunia. Sebahagian lagi melihatnya sebagai sebuah ajang bisnis olah raga terbesar yang menjadikan sepak bola sebagai jualannya.

Namun tidak hanya itu, Piala Dunia, di balik skandal dan intrik yang mengikutinya, adalah sebuah festival keberagaman terbesar yang pernah ada. Sebuah event besar yang mampu menyatukan orang dari berbagai macam latar belakang iman, agama, ras, ataupun suku untuk larut dan menikmati perhelatannya.

Inilah satu-satunya event yang mampu mengumpulkan ribuan orang dari berbagai macam negara, menempuh ribuan kilometer untuk datang dan mendukung tim kebanggannya.

Wajar memang, sepakbola memiliki magnet yang sangat luar biasa. Jumlah penggila sepak bola di dunia diyakini melebihi jumlah penganut Agama Kristen yang saat ini merupakan agama dengan jumlah populasi terbesar di dunia.

Negara yang kemudian berhasil menjadi penyelenggara piala dunia, selain mendapatkan keuntungan bisnis yang lumayan besar, juga menjadi negara yang beruntung karena dapat memberikan pendidikan dan pengalaman keberagaman terhadap warganya mengingat tidak mudah menghadirkan orang dari latar belakang yang berbeda untuk datang ke sebuah negara.

Piala Dunia Rusia memungkinkan masyarakat Rusia untuk dapat bertemu mereka yang berasal dari Jepang, Korea, Arab, Iran, Maroko, Senegal, Peru, Kolombia, Brasil, Belgia, Inggris dan suporter dari banyak negara lainnya.

Pertemuan-demi pertemuan dengan mereka yang berbeda tentu sedikit banyaknya akan membuka mata masyarakat Rusia tentang beragamnya masyarakat dunia.

Melihat Pagelaran Piala Dunia sebagai sebuah Festival Keberagaman menjadikan kita tidak hanya fokus melihat gol-gol indah dan skill mengagumkan para maestro sepak bola di lapangan hijau namun juga mencoba melihat kejadian lain yang terjadi baik di lapangan maupun di luar lapangan hijau. Seringkali, cerita-cerita yang terjadi itu dapat menjadi pengingat tentang manusia dan sifat-sifat dasar yang selama ini seringkali dilupakan.

Berbagi Kebahagiaan

Salah satu cerita indah itu bisa kita temukan dari kisah Hassan Sedky misalnya. Hassan adalah seorang anak muda dari Mesir yang sedang melanjutkan program masternya di University of Texas.

Hassan mungkin tidak menyangka bahwa kehadirannya di Rusia dalam mendukung negaranya berlaga di piala dunia akan menjadi salah satu cerita epik dalam sejarah pelaksanaan World Cup 2018 di Rusia.

Hassan yang sehari-harinya harus menggunakan kursi roda ikut hadir di fan fest saat pembukaan piala dunia. Berbaur dengan ratusan bahkan ribuan orang dari berbagai negara yang juga larut dalam perayaan sepak bola, Hassan ikut bergembira bersama.

Namun karena keadaannya, menjadikan dia sulit melihat secara langsung apa yang terjadi dari layar lebar. Yang terjadi selanjutya adalah hal yang sangat menakjubkan, para pendukung Kolombia dan Meksiko yang berada di sekitarnya mengangkatnya ke atas lengkap dengan kursi rodanya agar dia dapat ikut larut menyaksikan kemeriahan dari layar lebar yang ada.

Hassan tidak mengenal orang-orang ini. Demikian pula orang-orang ini tidak mengenal Hassan. Namun mereka punya satu kesamaan, mereka adalah manusia dari latar belakang yang berbeda yang datang ke Russia untuk menikmati sebuah pagelaran akbar sepak bola. Dan mereka ingin menikmati ajang ini bersama-sama.

Cerita tentang Hasan dan fotonya yang diangkat oleh suporter dari berbagai negara pun menjadi viral. Rasa persaudaraan yang ditunjukkan membuka mata dunia bahwa keberagaman dapat menjadi sangat indah jika mereka yang berbeda dapat bersama, saling bahu membahu dan bergembira bersama tanpa perlu melihat latar belakang setiap orang.

Berbagi kebahagiaan dan keinginan untuk melihat kebahagian dari orang lain adalah suatu sikap yang harusnya dikembangkan. Apalah arti sebuah kebahagiaan jika di saat saat bersamaan, di sekitar kita ada orang-orang yang tidak bahagia. Bukankah kebahagian harus dibagi agar tak ada monopoli kebahagian untuk sekelompok orang.

Inspirasi dari Grup C

Cerita tentang indahnya keberagaman dan penghargaan di piala dunia tidak hanya hadir dari para suporter. Cerita indah itu juga kita temukan dari rasa kemanusiaan yang ditunjukkan oleh kapten Australia, Prancis dan juga Denmark.

Adalah Jose Paolo Guererro Gonzales, kapten tim nasional Peru yang harus merelakan mimpinya untuk berlaga di Piala Dunia Australia. Guerrero terindikasi positif menggunakan kokain karena mengkomsumsi sebuah teh yang ternyata mengandung kokain.

Meski hal itu terjadi tanpa sepengetahuannya namun FIFA tetap menjatuhkan sanksi 14 bulan baginya. Sebuah sanksi yang meremukkan perasaanya dan juga perasaan masyarakat Peru mengingat inilah kesempatan terakhir bagi Guerrero tampil di sebuah piala dunia bagi negaranya. Guerrero adalah pencetak gol terbanyak bagi Peru. Darinyalah pundi-pundi gol diharapkan.

Di saat harapan itu sirna, hal tak disangka muncul. Mile Jedinak, kapten keseblasan Prancis, Simon Kjaer, kapten keseblasan Denmark, dan Hugo Lloris, kapten keseblasan Prancis mengirimkan surat agar Guererro diberikan kesempatan untuk tetap tampil di piala dunia.

Dalam suratnya, seperti dilansir The Guardian, ke tiga kapten dari negara-negara yang akan menjadi lawan Peru di penyisihan grup piala dunia meminta Dewan FIFA untuk menunjukkan rasa belas kasihnya kepada Guerrero.

Bagi mereka, bukanlah suatu hal yang bijak jika menghukum Guerrero tidak tampil di sebuah ajang yang mungkin menjadi pencapaian terbaik dalam karier sepak bolanya.

Apalagi untuk sebuah kesalahan yang tidak disengajanya. Surat ini meluluhkan hati Dewan FIFA. Guerrero mendapatkan kesempatan bermain itu. Hukumannya tetap diberlakukan namun setelah piala dunia.

Bukan hanya bermain, Guerrero bahkan mencetak sebuah gol di piala dunia. Hal yang akan dikenang seumur hidupnya. Namun satu hal yang tentu akan membekas dalam pikirannya, adalah kesempatan besar itu didapatkan dari hasil usaha tiga orang kapten tim dari negara yang justru seharusnya menjadi lawannya.

Medinak, Lloris, dan Kjaer berhasil menunjukkan sisi kemanusiaanya. Bahwa manusia boleh bersaing, namun bukan berarti mereka tidak bisa saling memanusiakan.

Ada banyak cerita-cerita indah yang bisa kita dapatkan dari sebuah pagelaran piala dunia. Cerita-cerita yang mungkin penting bagi kita dalam menjalani hidup sebagai sebuah negara yang sangat beragam. Bagi kita di Indonesia, sebuah negara dengan tingkat “kegilaan” sepak bola yang luar biasa, sambil berharap Indonesia dapat menjadi peserta piala dunia atau setidaknya dapat menjadi tuan rumah festival keberagaman terbesar ini, pertanyaan lain yang mungkin penting adalah, apakah kita cukup berani untuk berbagi kebahagian dengan orang lain, atau kita cukup dewasa untuk tetap memanusiakan mereka yang seharusnya menjadi saingan kita.

Wallahu A’lam bi’al-Shawwab

Hak Cipta Penulis: Syamsul Arif Galib

Menjagokan Sesuatu bukan berarti Merendahkan Orang Lain

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel